Monday, February 29, 2016

Cerita Dapur Dewi: Ayam Kecap Andalan!

Pertama kali saya memasak ayam kecap adalah ketika di suatu sore suami request menu ini untuk makan malam. Setelah googling sebentar, akhirnya saya nguprek dapur untuk memasak menu ini untuk pertamakalinya. Resepnya sih kombinasi dari berbagai resep yang saya baca.. eh, surpriseee!! Hasilnya ternyata enaakkk!! jadilah, menu ini cukup sering saya masak di dapur..

Ayam Kecap Andalan Dapur Dewi.. heheheh

Resep ayam kecap saya memang agak 'ribet' karena menggunakan lebih banyak bumbu dapur dibanding resep ayam kecap pada umumnya. Tapi, rasanya, Insya Allah enak, deh! :)


Berikut resep dan cara pembuatannya:

Bahan:
1 ekor ayam, potong sesuai selera
Kecap manis secukupnya (saya tidak menakar, sesuai selera sih.. yang pasti sampai warnanya ngecap alias cukup hitam ya.. hehehe)
2 sdm Kecap manis pedas
4 lembar daun jeruk
4 lembar daun salam
3 batang sereh, keprek
garam secukupnya
merica bubuk
air

Bahan yang dihaluskan:
10 butir bawang merah
5 butir bawang putih
5 buah kemiri, sangrai sebentar
1 ruas (kurang lebih 1 cm) kunyit, kupas, iris2 tipis
1 ruas (kurang lebih 1 cm) jahe, kupas, iris2 tipis
1 ruas (kurang lebih 1,5 cm) lengkuas, kupas, iris2 tipis
1 ruas (kurang lebih 1 cm) kencur
5 buah cabe merah (atau sesuai selera untuk tingkat pedasnya).
Blender semuanya, hingga halus dan berbentuk pasta.

Step by step proses memasak "Ayam Kecap Andalan"


Cara memasak:
1. Panaskan kurang lebih 2 sdm minyak goreng
2. Tumis bumbu halus hingga harum
3. Tambahkan kecap manis dan kecap manis pedas, aduk2 hingga rata
4. Masukkan ayam, aduk hingga bumbu merata di ayam. Oh ya, supaya kuman2 di ayam mentah tidak membahayakan tubuh kita, biasakan untuk mencuci tangan hingga bersih ya, setelah mencuci ayamnya.
5. Masukkan satu mug air (saya gunakan gelas blender bekas bumbu, jd sekalian ngebilas bumbu yang masih tersisa.. biar nggak mubazir.. heheeh)
6. Tambahkan garam dan merica secukupnya, masukkan daun salam, daun jeruk dan lengkuas kepreknya juga. Aduk-aduk hingga merata.
7. Sebelum kuahnya mengering, jangan lupa dicicipi ya.. jika perlu perbaiki rasa.. sedikit garam, sedikit gula (jika ingin rasa lebih manis, misalnya).
8. Setelah kuah kental, ayam kecap siap disajikan. 

Bagian yang paling saya suka dari ayam kecap ini justru kuahnya yang kaya bumbu itu.. Yuuummm! Dagingnya jd bonus aja.. heheheeh..

Selamat mencoba..!! :)

Tuesday, February 23, 2016

Cerita Dapur Dewi: Kastengel Home Made yang NgeJuu Banget!

Kastengel, Nastar, Putri Salju dan kue-kue kering lainnya identik sebagai kue kering hidangan lebaran. Favorite saya, Kastengel yang lembut dan ngejuu banget! Memang sih, lebaran masih cukup lama, tapi udah kangen aja dengan kue-kue kering super yumm itu. Jadilah, nguprek dapur sesorean untuk bikin kastengel sendiri di rumah. Dari hasil googling resep, akhirnya saya coba mengikuti resep di blog ini, dengan beberapa modifikasi.


Kastengel siap dipanggang.. ;)


Berikut Bahan dan Cara Pembuatannya:

Bahan:
300 gram unsalted Butter, jadi hasil kuenya haruuum..
200 gram keju parut, supaya lebih hemat dan tetap enak, saya pake 100 gram keju edam dan 100 gram keju craft cheddar
400 gram tepung terigu protein rendah (saya pakai Kunci Biru)
2 sdm maizena, supaya kue renyah
2 sdm munjung susu bubuk ( saya pakai susu Dancow full cream)
3 butir kuning telur (kuning telur membuat kue menjadi empuk dan renyah, sementara putih telur akan membuat kue keras dan kering)


Untuk olesan dan taburan keju;
2 kuning telur kocok dan keju cheddar parut secukupnya (saya suka yg kejunya banyak!)

Cara Membuatnya:

1. Mix butter dan telur hingga tepat tercampur rata (saya gunakan pengocok yang spiral untuk mixernya, gunakan kecepatan rendah saja), matikan mixer. Jangan terlalu lama dikocok karena akan menyebabkan adonan lembek dan lengket hingga sulit dicetak nantinya.

2. Tambahkan parutan keju kemudian mix kembali

3. Tambahkan tepung terigu dan maizena yang sudah diayak secara bertahap kemudian mix kembali hingga tercampur sempurna dan siap untuk dicetak. 
Dari awal hingga akhir saya gunakan mixer untuk mencampur semua adonan. Sebisa mungkin hindari kontak tangan dengan adonan yang terlalu lama, karena panas dari tangan kita dapat melelehkan lemak yang dapat mengakibatkan kue tidak renyah.

4. Jika adonan yang dihasilkan agak lembek/lengket, jangan kemudian ditambahkan tepung, ya.. Lebih baik simpan/diamkan dulu adonannya supaya agak mengeras, baru dicetak.

5. Dengan menggunakan rolling pin, ratakan adonan, kemudian cetak dengan cetakan kastengel. Dengan menggunakan cetakan, kastengel yang dihasilkan berukuran sama sehingga ketika dipanggang dapat matang bersamaan.

6. Susun adonan kastengel yang telah dicetak tadi di atas nampan yang telah dialasi kertas roti (alas loyang), beri sedikit jarak di antaranya, supaya tidak berdempetan ketika adonan sedikit mengembang.
Penggunaan kertas roti ini jauh lebih praktis dibandingkan dengan menggunakan loyang yang dioles margarine dan tepung karena selain mudah membersihkan loyangnya juga mencegah dasar kue menjadi gosong. Apalagi jika loyang akan kita gunakan beberapa kali, cukup buang alas kertas yang lama, dan ganti dengan yang baru. As simple as that!

7. Olesi bagian atas kue dengan kocokan kuning telur kocok kemudian lanjutkan dengan penambahan taburan keju cheddar parut di atasnya.

8. Panggang dengan oven api atas pada suhu 150 derajat celcius, hingga kue berwarna kuning keemasan. Idealnya, loyang ditempatkan di bagian tengah oven ketika dipanggang. Tapi, karena oven saya berukuran kecil dan supaya menghemat waktu memanggang, saya panggang satu loyang di bagian atas selama beberapa menit (kurang lebih 10 menit), kemudian saya pindahkan loyang tersebut ke bagian bawah oven hingga kue terpanggang sempurna. Begitu seterusnya.. 

Jika bagian pinggir kue telah kering, angkat kue dari oven. Walaupun bagian tengah kue tampak masih agak lunak, nanti ketika dingin kue akan mengeras, kok. Waktu panggang sekitar 20-25 menit, tentu saja tergantung ovennya. Kenali oven masing-masing dengan baik, ya.. Untuk panggangan pertama, waspada untuk melihat proses pemanggangan, supaya tidak gosong. hehehe.. Oh ya, jangan lupa pre-heat oven sebelum mulai memanggang ya.. jadi, pas loyang masuk, suhu oven sudah tercapai sesuai yang kita inginkan. 

Kastengel empuk, renyah, dan ngeju bangeeet...! yuuuummm!!
Setelah kastengel dingin, susun ke dalam toples yang kedap udara supaya awet ya.. Selamat menikmati... :)

Monday, February 1, 2016

Dapat Untung dengan "MAU Bertanya, NGGAK Sesat di Jalan" #AskBNI

Tanggal 1, tanggal gajiannya PNS. hehehe.. Sudah menjadi kebiasaan saya di awal bulan untuk mengecheck rekening gaji saya dengan layanan Internet Banking BNI. Mulai dari check mutasi rekening hingga bayar-bayar tagihan. Selain itu, biasanya saya juga check-check promo BNI di halaman website BNI. Saya kan perempuan MODIS, MOdal DISkon! hihihi.. 
Nah, kali ini saya menemukan info mengenai fitur baru BNI di Twitter, yaitu #AskBNI. Dimana, kita bisa mengirimkan Direct Message (DM) ke @BNI46 untuk mendapatkan info berbagai produk perbankan terbaru BNI, termasuk promo-promonya, donk! Sebagai pengguna layanan Bank BNI baik tabungan, KPR maupun kartu kreditnya, tentu saja ini kabar baik untuk saya.. Yuhuuu...

Langsung deh saya coba layanan terbaru BNI ini. daaan..., voila.. Banyak sekali info promo BNI di sana.. Yang perlu kita lakukan hanyalah follow akun twitter BNI46, kemudian kirimkan DM ke @BNI46 ketik salah satu format seperti di atas. Misalnya, kita membutuhkan informasi mengenai BNI  Debit Online, cukup ketik #AskBNI spasi #DebitOnline dan tunggu jawaban infonya. Kalau saya..., tentu saja informasi yang saya cari adalah promo-promo terbarunya BNI! hahahah.. Caranyaa, cukup kirim DM, ketik #promo spasi #salah satu keywords yang kita butuhkan (misal: #promo #hotel).
See..., keywords promonya ada buanyak.. Berikut diantaranya.. 
 Sebagai contoh, berikut beberapa DM yang saya kirimkan untuk mendapatkan informasi berbagai promo BNI terbaru..


Mulai dari promo tiket harian Java Jazz Festival, promo diskon 100 ribu rupiah untuk pemesanan hotel di salah satu situs travel online, promo diskon 20% belanja produk segar di salah satu supermarket, hingga promo installment 0% untuk pembelanjaan di salah satu e commerce besar. Yuhuuu... 


Bagi yang ingin memanfaatkan produk perbankan dengan optimal, seperti saya, layanan DM ke akun twitter @BNI46 ini asyik banget! Kita bisa dapat update promo-promo terbaru BNI. Saya sudah memanfaatkan fitur ini untuk mendapatkan diskon di berbagai merchant. Misalnya untuk pembelian tiket harian Java Jazz festival tahun ini, buy 1 get 1 free! Lumayan bangeeet.. juga, promo potongan diskon 20% untuk pembelanjaan produk daging dan buah-buahan segar di salah satu supermarket. lumayaan.. Bahkan, belum lama, seorang teman kantor sempat meminjam kartu kredit BNI saya untuk membeli laptop dengan installment 0% selama 6 bulan lho! Dan masih banyak lagi.. hehehe

Sebenarnya, ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dari produk perbankan jika kita mau banyak tanya dan cari info, lho! Hal itu sesuai sekali dengan campaign BNI yang baru, yaitu "MAU Bertanya, NGGAK Sesat di Jalan" Layanan  #AskBNI memudahkan kita untuk mendapatkan info terbaru dan (yang penting) valid! Jadiii, yuk kita Dapat Untung dengan "MAU Bertanya, NGGAk Sesat di Jalan". Untuk urusan perbankan BNI, cukup dengan #AskBNI


PS:
Seperti kita tahu, kartu kreditlah yang paling banyak menawarkan promo-promo menarik. Tentu saja, kita harus berhati-hati dalam menggunakan kartu kredit ya..! Ingat, harus bijaksana dalam menggunakan kartu kreditnya.. Gunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran yang praktis, mudah dan menguntungkan. Sebaliknya, jangan gunakan kartu kredit sebagai alat untuk ngutang, ya! heheeh.. Seyogyanya, setiap transaksi dengan kartu kredit yang kita lakukan, dibarengi dengan dana yang tersedia untuk membayarnya ketika tagihan datang. Dengan begitu, kondisi keuangan kita akan tetap sehat dan jauh dari bahaya terlilit hutang. cheers.. :)

Monday, January 4, 2016

Vendor Review: The Reza Prabowo Photography

Well.., I know..  It's been too long since our wedding on last August. Yet, I haven't manage to review one of the best wedding vendor that contributed at our wedding. The Reza Prabowo Photography, it is!

Berdasarkan pengalaman saya, mempersiapkan pernikahan memang butuh efforts yang luaaarr biasa.. dana, waktu, energi dan emosi. Memang sih, segala efforts luar biasa itu kemudian terbayar lunas dengan rasa bahagia ketika pernikahan kita berlangsung lancar, khidmat, dan indah. Daaan.., setelah 5 bulan menikah, kami baru 'ngeh' bahwa yang tersisa dari efforts luar biasa ketika mempersiapkan pernikahan kami kemarin adalah kenangan indah yang terekam di memori kami, halaaah.., dan tentu saja foto-foto dokumentasinya!! Karenanya, alhamdulillah, kami bersyukur banget telah mengambil pilihan tepat untuk tetap menyewa photographer profesional pilihan kami walaupun joglo mlati pun sudah menyediakan fotografer di dalam paket pernikahannya.

Sejak awal, saya mempunyai dua pilihan photographer keren, yaitu ALVIN PHOTOGRAPHY dan REZA PRABOWO PHOTOGRAPHY. Di samping karena hasil foto kedua photographer tersebut teramat keren, juga karena keduanya ber'base' di Jogja. Lucunya, customer mereka justru kebanyakan dari luar Jogja, lho.. heheehe.. Anyway, setelah saya obrolkan dengan calon suami saya waktu itu, akhirnya mantap hati kami untuk menggunakan jasa Reza Prabowo Photography. Di samping karena hasil foto2 mereka sangat keren, juga karena harganya lebih bersahabat. Teteepp..! Heeey.., kami kan penganten ekonomis! ahahah..


I must say, kami puas banget dengan hasil kerja profesional tim Reza Prabowo Photography (RPP). Sejak awal, komunikasi dengan Reza Prabowo Photography berjalan sangat smooth dan lancar. Mbak Nadhia-RPP sangat komunikatif dan responsif. Saat saya casually mengundang technical meeting vendor2 pernikahan kami beberapa hari menjelang the W-day, Reza Prabowo, yang ternyata beneran "masih kecil" itu (He's ONLY 18!!), menyempatkan diri datang untuk melihat venue dan ngobrol dengan kami. Di hari pernikahan kami, beruntung sekali, kami mendapatkan dua lead photographer dari RPP. Yeaaaayyy!! Dua bersaudara Reza dan Ardi Prabowo. Asyiiiikkkk... Kedua kakak adek ini pribadi yang sangat sopan dan menyenangkan sekali.. Pokoknya nyaman banget deh jadi obyek foto mereka.. suami saya yang kaku banget di depan kamera saja, merasa nyaman lho ketika diminta untuk 'pose' oleh mereka.. hahahah.. Sepanjang acara pernikahan, mereka mengambil ratusan bahkan ribuan foto. Saya yakin, pasti mereka kelelahan banget! Tapi, saya melihat mereka tetap bekerja secara profesional hingga acara resepsi kami berakhir. Dan hasilnyaaaaa...... beyond words! Silahkan dinilai sendiri beberapa hasil foto mereka, berikut ini saja, ya...

















Aaah, alhamdulillah banget deh, nggak salah pilih vendor. Album fotonya keren.. file fotonya buanyaak bangeet (ribuan).. sebagian besar file foto sudah diedit, yang raw pun dikasih semua. Pigura photo canvasnya juga bagus.. 

Jadiii, berdasarkan pengalaman kami.. saran bagi yang sedang mempersiapkan pernikahan, memilih wedding photographer harus menjadi top list dalam persiapan pernikahan, ya.. Memang, tetep harus menyesuaikan budget yang ada. Tapii, sebisa mungkin pilih yang bagus dan professional kerjanya. Karena, kenangan indah saat menikah, fotolah yang mengabadikannya.. Saya teringat, sejak kecil hobby banget buka2 album lama Bapak-Ibu saya.. Termasuk melihar foto2 pernikahan orang tua saya dulu.. aah, kebayang kan, foto2 pernikahan kita bisa menjadi 'legacy' kenangan indah untuk anak cucu kita nanti.. :)

Thursday, November 5, 2015

Cerita Dapur Dewi: Ala-Ala "Sop IGa Sapi"

Setelah menerima pembagian daging Qurban pada Idul Adha lalu, saya hanya sempat memotong2 daging tersebut menjadi berbagai ukuran kemudian saya simpan dalam beberapa tuppy. Ada yang untuk diolah menjadi rendang, ada yang untuk rawon atau soto, ada  juga iga dan tetulangan untk sop. Semua saya simpan dalam tuppy di freezer. Satu persatu daging tersebut telah diolah.. 
Hanya saja, sebulan setelah Idul Adha, saya baru 'ngeh' kalau masih punya iga sapi beku di freezer. Daaaa!!! Dan mulailah saya bereksperimen di dapur untuk mengolah iga sapi tadi menjadi Soup Iga Sapi untuk PERTAMA kalinya..  Heheheeh..

My very first attempt to cook "Sop Iga Sapi"

Kurang lebih, berikut resepnya:
Disclaimer: Resep disusun oleh newbie in cooking. Tentu saja perlu penyempurnaan di sana-sini. Hihihi...


BAHAN:
0.5 kg iga sapi (kurang lebih)
3 buah wortel
4 buah kentang 
1 buah tomat
4 batang daun bawang dan seledri
1 bonggol brokoli

Potongan Sayuran selera saya, yang agak gendut! hehehe


BUMBU:
10 butir bawang merah
7 butir bawang putih
satu ruas jahe, kupas kulitnya, bakar sebentar, kemudian geprek
seperempat sendok teh kayu manis bubuk (atau sesuai selera)
2 butir kapulaga
2 butir bunga lawang (pekak)
seperempat sendok teh pala bubuk (atau sesuai selera)
setengah sendok teh merica bubuk (atau sesuai selera)
garam secukupnya
gula pasir secukupnya

Cara memasak:
1. Rebus iga sapi dengan 2 L air dalam panci presto kurang lebih selama 25 menit. Saya tambahkan juga 2 batang daun bawang dan seledri yang diikat (utuh, tanpa dipotong) ke dalam panci, supaya kaldunya lebih segar.
2. Sambil menunggu iga dipresto, haluskan bawang merah dan bawang putih --> saya pakai blender untuk ngehalusinnya.. Kalau diuleg mungkin rasanya lebih enak kali ya..
3. Tumis bawang merah-putih dengan sedikit minyak hingga harum, kemudian sisihkan.
4. Potong-potong sayuran sesuai selera. Kalau saya lebih senang memotong sayurannya agak besar. Walaupun kemudian dicomment suami saya, kok sayurannya gede2 potongannya.. hehehe.. Maksud saya sih, supaya sayuran tdk hancur sewaktu dimasak agak lama.
5. Setelah proses memasak dengan panci presto selesai, buka tutup panci kemudian lanjutkan masak dengan api sedang. 
6. Selanjutnya, masukkan tumisan bawang merah-putih ke dalam rebusan iga, juga bumbu2 lain seperti jahe, kapulaga, pekak, garam, pala, merica dan sedikit gula pasir. Untuk bumbu rempah2 tadi, tentu saja silahkan disesuaikan sesuai selera, ya.. Kebetulan, saya senang dengan sop iga yang kuahnya terasa rempahnya. Cicipi rasanya, dan tambahkan sedikit ini, itu sesuai selera.. Heheheh..
7. Kemudian masukkan potongan sayuran satu per satu. Tentu saja dimulai dari sayuran yang keras dulu, ya.. kentang, wortel, kemudian potongan daun bawang dan brokoli sesaat sebelum masakan diangkat. sebelum diangkat, cicip2 lagi rasa kuah sopnya.. Kalau sudah pas, angkat dan sajikan selagi panas.

YUMMY... Sop iga kuah rempah dari dapur kita sendiri.. Yang pasti kalau dihitung2, tentu saja jauuuuh lebih hemat dibanding kalau beli di luar.. Asal bikinnya untuk porsi banyak sekalian, ya.. Supaya nggak 'rugi' energinya.. Heheheh.. 

Oh ya, ambil sop dalam porsi secukupnya, sisanya simpan di kulkas setelah dingin. Saat pengen makan lagi tinggal dihangatkan di microwave, atau rebus kembali sebentar.. Risikonya, sayuran bisa overcooked karena dimasak lagi, jadi kurang cihuy.. Nah, kepikiran solusi untuk itu, mungkin bisa dengan menyiapkan sayuran terpisah dari sopnya.. Tapi sopnya jd kurang segar donk rasanya.. Atau, mungkin dengan mengangkat sayuran setelah dimasak setengah matang kemudian sisihkan. Nah, pas kita pengen makan sop jilid 2 atau 3 bahkan.. heheheh.. Baru masukkan kembali sayurannya untuk direbus bersama kuah sopnya.. 
Ada yang punya tips lebih jitu, mungkin..?? Heheheh.. 






Tuesday, October 20, 2015

Saya perempuan MODIS: MOdal DISkon!

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang bagaimana saya yang addicted to online shopping & discounted goods. Hingga saat ini kebiasaan saya tersebut belum pudar bahkan belakangan justru makin menjadi! Ouuch..! Memang sih, saya pernah insyaf selama beberapa bulan.. Yaitu saat kami sedang mempersiapkan pernikahan, dimana saya sadar harus pinter2 mengelola keuangan dan stop boros karena ada kebutuhan penting yang memerlukan banyak biaya.

Setelah menikah, tentu saja kami perlu membeli berbagai perlengkapan rumah tangga untuk rumah mungil kami. Dan, berawal dari situlah, kebiasaan saya berbelanja online dan nguber barang diskonan, KAMBUH dengan sukses! Saya, yang selama 6 bulan lebih telah insyaf dari godaan diskon dan belanja, akhirnya memulai lagi kebiasaan 'nggak buruk2 amat, sih!', tapi 'tidak baik juga!'. Huhuhuuu.. 

Memang sih, saya sudah jaraang sekali 'olah raga' mengitari pusat-pusat perbelanjaan. Tapi, saya rajin buka online shop! Awalnya memang saya berbelanja online untuk membeli keperluan rumah, seperti vaccum cleaner, microwave, mixer, dan sejenis. Jadi, barang-barang yang memang kami butuhkan di rumah. Tapi, belakangan saya mulai tergoda untuk berbelanja barang2 'boros' secara online. Sebut saja baju, sepatu dan tas. Barang-barang boros yang tidak saya perlukan tapi kok ya saya beli. Huuhhhh!!! 

Untungnya, saat ini suami bertindak menjadi polisi untuk mengkontrol kebiasaan boros saya itu. Misal, kemarin sempat punya alasan untuk membeli tas kantor baru, karena tas kantor hitam yang biasa saya pakai sudah saatnya diistirahatkan karena ada bagian yang mengelupas kulitnya. Boleh donk alasannya... iya, kan?! Nah, saya sudah mulai browsing2 tuh untuk beli tas baru.. Giliran kode ke suami.., eh diingetin kalo punya tas 'dobermen' (obermain bukan dobermen, kale! hehehe) baru yang belum kepake.. "di box juga banyak tas kamu tuh yang jarang dipake.."  Iya, siih.. fufufuu.. Walaupun biasanya Ardi akhirnya 'kalah' dan akhirnya menyilahkan saya untuk "ya udah, beli aja kalo emang pengen", tapi kan saya jadi 'sadar' kalau sebenarnya nggak butuh2 amat beli tas baru.. Tas yang ada saja jarang sekali dipake kok ya mau nambah lagi. Alhamdulillah, selamat dari khilaf.. :) Well, saya pernah beberapa kali 'nakal' juga sih.. sempat beli sepatu, baju, dan beberapa barang 'boros' lain, kemudian baru lapor ke suami pas barangnya sudah di tangan! Hihihii.. Ssssttt!

Anyway, e commerce memang gila banget, ya.. Kalau tidak kuat iman, kantong bisa jebol karena belanja tak terkontrol. BAHAYA! Tapi, berbagai merchant belanja online memang menawarkan harga yang menarik sekali. Saat ini, merchant2 belanja online perang harga untuk memberikan harga barang termurah. Dan, hey.. menyenangkan sekali lho, saat bisa membeli barang yang sama dengan harga yang lebih murah.. Belum lagi, berbagai merchant belanja online tersebut berkerjasama dengan berbagai bank untuk memberikan diskon ekstra. Asyiiik.. Misalnya, di salah satu situs belanja l*z*d*, ada promo ekstra diskon 10 persen jika membayar belanjaan dengan kartu mastercard. Atau di situs lain jika membayar dengan kartu bank tertentu akan diberikan ekstra diskon 20%. Wuiiih.. Kan lumayan banget tuh, diskonnya. 
Sebagai contoh, belum lama ini saya membeli microwave di salah satu situs belanja online seharga kurang lebih 1,5 jt. Sementara harga di toko elektronik terkenal masih lebih mahal beberapa ratus ribu dari harga tersebut (Iya, sebelum membeli suatu barang, saya memang membanding2kan harga dari berbagai toko!). Waktu itu sengaja saya bayar dengan mastercard untuk mendapatkan ekstra diskon 10%.. Yuhuuu.. lumayan banget diskonnya. heheeh.. Oh ya, pengiriman barangnya pun gratis pula. Jadi, sudah harganya lebih murah, gratis ongkos kirim, tak perlu jauh2 jalan ke toko, lumayan cepat pula pengirimannya.. Gimana nggak bikin konsumen nyaman, coba?!


Wedding shoes saya, dibeli secara on line dengan diskon tentunya! ;)
Sekarang ini, kebiasaan saya untuk hunting barang2 berdiskon besar pun makin menjadi.. ouchh! Pokoknya segala barang dan keperluan deh, saya browse untuk mendapatkan harga termurah dengan ekstra diskon. Misalnya, hari ini saya membeli tiket pesawat untuk tugas kantor ke Solo. Harga tiket yang saya beli di salah satu situs ticketing dll bisa lebih murah sekitar 50 ribuan (pp) dibandingkan harga dari web maskapainya,  lho! See...! 
Juga ketika awal Agustus lalu kami memesan banyak kamar hotel untuk keluarga dari luar kota yang menghadiri pernikahan kami. Tentu saja, kami gunakan promo diskon dengan menggunakan kartu dari bank tertentu ketika memesannya di salah satu situs ticketing dan hotel. Bayangkan, belasan kamar kali beberapa ratus ribu didiskon 12%.  Lumayan banget lho, hematnya! Hihihii..
Contoh lain, minggu lalu saya memesan kamar hotel untuk kami menginap ketika tugas di Jogja. Dengan memanfaatkan promo ekstra diskon dengan pembayaran menggunakan kartu dari bank X, kami hanya perlu membayar 270an ribu per malam untuk hotel bintang 4 tersebut. Hihihiii.. 

Oh ya, saya adalah tipe orang yang senang menyetock barang persediaan di rumah, terutama untuk barang2 keperluan pribadi (seperti sabun, kosmetik) dan sekarang keperluan dapur. Jadi, saat belanja ke supermarket dan ada barang2 yang biasa kami pakai sedang diskon, biasanya saya akan beli banyak, buat stock di rumah! hihihiii..

Iyaaa..., Saya memang MODIS! MOdal DISkon! ;p

PS. Berhati-hatilah dengan godaan diskon, promo2 serta berbagai kemudahan berbelanja online, ya..! Jangan sampai keuangan jebol gara2 belanja 'boros'. Kemudian, BE WISE ketika menggunakan kartu kredit. Perlu diingat, gunakan kartu kredit sebagai alat bayar bukan alat utang!! Pastikan, sebelum membeli sesuatu dengan kartu kredit memang ada uang untuk bayarnya, bukan mumpung bisa ngutang, ya.. PENTING pula untuk memastikan ketika tagihan kartu kredit datang tiap bulannya, langsung bayar LUNAS jumlah tagihannya sesegera mungkin, ya.. 

Cheers... :)

Monday, October 19, 2015

Memasak bagi saya adalah bisa karena terpaksa!

Bisa karena terbiasa, atau lebih tepatnya karena terpaksa.. Itulah memasak bagi saya.. Hehehe..

Sejak kecil hingga remaja, saya jarang sekali belajar memasak.  Dalam ingatan masa kecil saya, almarhumah Ibu yang merupakan ibu bekerja dengan seabrek kegiatan sosial di sore hari, biasanya akan turun ke dapur untuk moment2 spesial.. Misalnya menyiapkan hidangan lebaran.. Atau baking kue dan cake! Untuk hidangan sehari2 Mbokdhe Arjolah yang menyiapkan masakan di rumah kami. Karena sejak kecil mbokdhe Arjo jugalah yang momong saya, secara tidak langsung, dari mbokdhe Arjo inilah saya 'belajar' memasak.. Well, lebih tepatnya, mengamati bagaimana cara memasak.. Matur nuwun Mbokdhe Arjo.. :) Oh ya, hingga sesepuh skrg ini, mbokdhe Arjo ini masih 'merawat' keluarga saya, lho.. Walaupun Bapak-Ibu saya sudah meninggal, dan saya dan kakak kandung saya saat ini tinggal di Jakarta, mbokdhe Arjolah yang tiap pg masih menyapu halaman rumah kami di Jogja. Nuwun ya mbook.. :)

Bertahun-tahun kemudian, saya harus hidup mandiri di negri orang untuk studi. Selama 2 tahun belajar di Brisbane, karena beberapa alasan, saya terpaksa harus belajar memasak. Selain karena tidak mudah mendapatkan makanan yang terjamin kehalalannya, harga makanan juga mahaal. Untuk sekali makan seharga $10, rasanya beraaat banget di kantong mahasiswa berbeasiswa seperti saya, . Apalagi lidah saya kan Indonesia sekali, atau bahkan Jawa sekali, jadi kurang merasa cocok dengan menu Bule.. Akhirnya, untuk bisa survive hidup di Brisbane, mulailah saya bereksperimen di dapur.. 


Karena terpaksa, jadi belajar masak.. Oh ya, thanks to facebook, ternyata saya pernah membuat satu album yang berisi foto2 hasil belajar memasak saya.. ehheheeh


Saat saya desperately kangen masakan2 khas Indonesia, saat itulah saya harus BELAJAR membuat masakan itu di dapur flat kami. Misalnya, kangen makan batagor, bereksperimenlah saya membuat batagor sendiri. Saat pengen makan empal daging, belajarlah saya membuat empal daging sendiri, pengen macaroni schotel, ya coba bikin sendiri juga. Begitu pula saat lebaran tiba dan pengen banget kastengel, saya cobalah membuat kastengel sendiri. Dan seterusnya... Semua bermodalkan jaringan internet cepat untuk browsing resep dan nge youtube. Alhamdulillah, sebagian besar jadi juga lho! hehehe.. Tentu saja, sekali lagi, saya harus berterima kasih pada Mbokdhe Arjo yang secara tidak langsung telah mengajarkan saya basic skill memasak.

Bahkan, suatu kali saya pernah juga membuat gudeg, lho! Iyaaa, gudeg! Alhamdulillah rasanya enak juga.. Bahkan, saat mahasiswa Indonesia membuat fund raising untuk membantu korban letusan Gunung Merapi saat itu, saya berani menjual gudeg tersebut. Seporsi gudeg dengan telor, tahu dan sambal goreng kentang dihargai kurang lebih 8$ saat itu.. Hehehehe.. 

Sekembalinya dari Brisbane, saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Di Jakarta saya tinggal di kos dengan dapur minimalis sekedar untuk masak indomie. Selain itu, segala jenis masakan Indonesia dengan mudahnya kita temukan dengan harga murah. Untuk porsi kecil, jauh lebih murah membeli masakan jadi dibandingkan membuat sendiri, pula! Sejak itulah, sedikit kebisaan saya memasak yang terasah selama di Brisbane, menguaaaap.. hoaaaamm!!

Setelah saya menikah beberapa bulan lalu, barulah saya harus belajar memasak lagi.. Metodenya masih sama sih.. Buka google dan browse resep saat akan memasak.. heheheeh.. Semua bisa karena terpaksa, rupanya! ;)

Monday, October 5, 2015

Cerita Dapur Dewi: Semangka, Buah Favorite Kami.

Di musim panas (kemarau) seperti ini , alhamdulillah justru buah-buahan segar yang juicy sedang musim2nya. Semangka, salah satunya.. Saat ini, semangka manis dengan mudahnya kita temukan di pasaran. Dari toko buah premium sampai warung buah pinggir jalan, tak ketinggalan tukang sayur keliling pun menjual semangka sebagai salah satu dagangannya..

Aaah, semangka merah manis, juicy dan dingin di siang hari yang panas.. Nikmat banget, deh! Belakangan, buah ini hampir selalu ada di kulkas kami. Setelah bermacet2 pulang kantor, juice semangka segar akan jd pelepas dahaga yang refreshing banget. Makanya, mumpung lagi musimnya, juice semangka ini yang cukup sering saya siapkan sebagai minuman segar untuk suami sepulang kantor.. menyiapkannya juga mudah sekali.. Cukup buah semangka potong2, tambahkan es batu sesuai selera, bisa ditambahkan sedikit susu kental manis putih, tanpa perlu tambahan gula lagi, blender, dan voila.. segelas juice semangka segar dan nikmat pun siap diminum, Super easy , taste really good and so refreshing!


Semangka Juice! Easily made juice yet so refreshing!

Selain dibuat juice, semangka juga seger banget untuk disiapkan sebagai 'cemilan' segar saat weekend. Tinggal potong2 dadu atau bulat2, tambahkan satu atau dua scoop vanilla ice cream, taburi kayu manis bubuk di atasnya.. and voila.. segar dan enak banget, deh! Jika suka, tambahkan buah lain yang ada di rumah. Misalnya melon atau mangga.. Super mudah dan yumm!!


semangkuk kesegaran di siang yang panas. Mudah dibuat, nikmat dan seger banget. Cobain, deh!
Silahkan dicoba.. Mumpung masih musim dan lagi murah.., ;) 

Wednesday, September 30, 2015

Menikah Sesuai dengan Kemampuan Finansial Kita

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat bercerita mengenai seorang teman kantornya (perempuan) yang berhutang hingga seratus juta untuk tambahan biaya resepsi pernikahannya, itupun tanpa sepengetahuan calon suaminya pula! Ckckck..! Dari cerita itu, akhirnya kami terlibat obrolan panjang tentang fenomena masyarakat Indonesia yang berlomba-lomba membuat resepsi pernikahan besar dan mewah. Bahkan cerita seperti di atas pasti banyak kita dengar di sekeliling kita. Memaksakan diri, bahkan hingga berhutang banyaaak hanya untuk sekedar membuat satu pesta besar. Parahnya, hal tersebut kemudian menjadi semacam kewajaran di masyarakat kita,  menjadi bagian budaya kita bahkan! Akibatnya, ketika orang berniat menggelar penikahan sederhana menjadi tampak salah di mata masyarakat. Salah satu bentuk tekanan sosial adalah diomongin orang.. haiisshh!

Siapa sih yang menebarkan virus2 gaya hidup boros di negri ini..? yang menebarkan virus2 bergaya hidup keren, tapi keropos (secara finansial), gaya hidup besar pasak daripada tiang.. Well, menurut saya, TV, internet dan media sosial adalah beberapa penyebabnya.. Ingatkah sewaktu beberapa waktu yang lalu ada selebriti yang menikah super mewah hingga diliput berlebihan di hampir semua stasiun tv, diekspose habis2an di berbagai koran, tabloid, dan majalah cetak dan online?? akibatnya menginspirasi masyarakat untuk susah payah mewujudkan pernikahan yang di luar kemampuannya .. (Saya tidak termasuk lho, ya..! heheheeh). 

Katanyaaa, untuk menggelar pernikahan yang 'sedang2' saja (ukuran kelas menengah Indonesia), biayanya tidak kurang dari 200 juta!! Kalau memang mampu, sudah dianggarkan, longgar secara finansial, saya pikir sah-sah saja! Boleh bangeeet! Orang mau syukuran acara penting, Insya Allah jadi moment sekali seumur hidup, jadi ajang silaturahmi keluarga, sahabat dan kolega, kok.. Masak nggak boleh.. Ya boleh banget donk! Tapiii... Yang SALAH BANGET adalah jika sebenarnya tidak mampu secara finansial untuk menggelar pesta pernikahan yang besar, mewah, keren, yang meriah tapi memaksakan diri hingga harus berhutang banyak untuk itu. Oucchh! Menurut saya, itu tidak keren sama sekali!

Kebayang nggak sih, setelah menikah masih harus memikirkan bagaimana membayar hutang-hutang yang banyak.. Padahal, banyak sekali dana yang dibutuhkan untuk memulai rumah tangga baru, sementara masih harus membayar hutang biaya pernikahan. Big No No, ahh! Kalopun punya tabungan dalam jumlah besar, menurut saya fokus utama justru untuk mempersiapkan kehidupan setelah menikah. Membeli rumah, misalnya.. Baru untuk membuat pesta pernikahan sesuai kemampuan.

Selain cerita sahabat saya tentang hutang untuk pernikahan temannya tadi, saya yakin pasti banyak di antara kita yang mendengar cerita serupa. Berhutang banyak untuk menikah atau mantu! Iyaaa, seringkali justru orang tua yang menginginkan pesta pernikahan besar untuk anaknya.. Heheheh.. Pesta sekian hari dengan upacara adat lengkap, mengundang ribuan undangan, dst.. Yaah, menyenangkan orang tua memang wajib hukumnya, tapi kalau kita coba jelaskan dan beri pengertian dengan baik, Insya Allah orang tua akan mengerti, kok..

Ketika belum lama ini kami menyiapkan pernikahan pun, saya sempet kepikiran dan deg2an juga dengan bagaimana komentar orang-orang nanti. Tekanan sosial terkadang memang kejaaam! Well, setidaknya saya sudah cukup terlatih dengan 'tekanan sosial' semacam itu.. bertahun2 ditanyain, diomongin, kapan nikah, dst. ada hikmahnya juga, ternyata.. Hehehe.. 

Sejak awal, saya dan Ardi sepakat untuk menikah sesuai dengan kemampuan finansial kami.  Dengan budget yang kami punya tersebut, barulah kami bergerak untuk menyiapkan pernikahan. Btw, budget pernikahan tersebut, 2/3 bagian dari Ardi dan 1/3 bagian dari saya.. ahahhaah.. iyaaa, saya juga termasuk makhluk yang "sedikiiit keren" di luar tapi keropos di dalam, boros, tidak pintar menabung, buruk dalam financial planning. Huhuhuu.. Untungnya, Ardi adalah seorang yang cukup baik dalam mengelola keuangannya, artinya tidak terlalu boros dan lumayan bisa nabung. Jadi, alhamdulillah lumayan menyeimbangkan keburukan saya. Dia pula yang 'meracuni' saya dengan ide untuk menikah sesuai dengan kemampuan, tidak berlebihan, tanpa hutang, dan ingat dengan prioritas penting, yaitu kehidupan berumah tangga setelah menikah itu sendiri.

Dalam beberapa postingan saya yang terkait dengan persiapan pernikahan pun, seringkali saya singgung bagaimana kami harus disiplin dengan "wedding budget" yang kami punya. Pun dengan pegangan rencana anggaran belanja untuk pernikahan yang telah kami susun dan rencanakan, tetap saja yang namanya over budget tidak terhindarkan. Untungnya, Ardi selalu mengingatkan saya tentang "ingat budget" tiap kali saya pengen nambah ini itu untuk mempercantik pernikahan kami karena terinspirasi, lebih tepatnya ngiler, dengan pernikahan orang2 yang cantik2 banget di berbagai akun instagram persiapan pernikahan yang saya ikuti.

Ternyata apa yang disampaikan Ardi benar sekali! Setelah menikah, ternyata memang buanyak juga expenses yang harus kami keluarkan.. Misalnya untuk mengisi rumah dan segala uba rampenya.. Biayanya lumayan juga, lho.. Kebayang saja, kalo kemarin saya tergoda untuk menyiapkan pesta pernikahan keren, yang secara finansial sebenarnya kami tak sanggup untuk mewujudkannya, tapi memaksakan diri hingga berhutang. Duuh, pasti saat ini kami harus fokus bayar2 hutang dulu, dan baru bisa pelan-pelan melangkah menata rumah tangga setelah melunasi hutang2 kami. Alhamdulillah, suami saya keren (halaah, muji2 suami sendiri!!).. Suami saya keren karena dengan teguh mengingatkan saya untuk menikah sesuai kemampuan dan menghindarkan diri dari berhutang hanya untuk sebuah pesta pernikahan.

Berdasarkan pengalaman saya, mempersiapkan pernikahan memang butuh efforts yang luar biasa.. dana, waktu, energi dan emosi. Memang sih, rasanya happy dan lega banget melihat keluarga besar berkumpul, sahabat dan teman2 baik datang, kolega2 dekat juga hadir dan punya kesan yang baik ketika menghadiri acara kita. Namun kemudian yang tersisa dari segala efforts yang luar biasa tersebut adalah kenangan manis. Apalah arti kenangan manis, kalau kehidupan yang kita jalani sekarang menjadi kurang manis. Halaaah.. opo sih??! ehehhee.. 


Biar acaranya sederhana, kalo keluarga besar bisa kumpul happy gini, bahagiaaaa banget rasanya! Di sini ada Mbah kakung saya yang telah berusia 90 tahun lebih lho.. Alhamdulillah.. Ini kenangan manis banget buat kami.. :)


Well, melalui postingan ini, Pesan Moral yang ingin saya sampaikan bagi yang sedang merencanakan pernikahan adalah Menikahlah Sesuai Kemampuan Finansial yang ada, Jangan memaksakan diri, Sebisa mungkin hindari hutang, jangan terlalu pedulikan apa komentar orang (toh yang menjalani hidup kita, emang orang lain mau bantu nambahin uang untuk bayar DP rumah, misalnya?) dan jalani semua dengan Happy, ya.. :)

Friday, September 25, 2015

Vendor Review: Kebaya Akad by Butik Hana

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang kebaya akad saya yang dibuat oleh Butik Hana. Pada postingan tersebut, saya agak sedikit kecewa karena kebaya tersebut sedikiiit kurang rapih di bagian lengan dan berharap Butik Hana dapat mempercantik kebaya tersebut.
Bersamaan dengan saya menulis postingan tersebut, saya juga mengirimkan email ke Butik Hana, dan ditanggapi dengan sangat baik dan responsif. Mbak Ika meminta saya untuk membawa kembali kebayanya ke butik Hana di daerah Tebet. Namun sayang, karena padatnya to do list saya menjelang hari pernikahan kami, saya tidak sempat untuk membawa kebaya tersebut kembali ke butik Hana. Jadii, kalopun kebaya saya sedikit kurang sempurna, kelalaian ada di saya, bukan karena pelayanan Butik Hana yang kurang. Jadi, two thumbs up untuk Butik Hana!! 

Kebaya tersebut hanya sempat saya dry clean di 5asec. Alhamdulillah, setelah di dry-cleaned, kebaya akad saya jadi tampak lebih rapih, liner kebaya yang memang dibuat menyatu dengan kebayanya juga tampak lebih rapih. Btw, memang membuat kebaya muslim dengan liner menyatu yang rapih sangatlah tidak mudah. Kalo bukan desainer kawakan pasti kurang sempurna hasilnya. Dan saya tidak mau menggunakan manset untuk dalaman kabaya saya karena manset akan membuat kebaya yang anggun jadi tampak kurang elegant, menurut saya.. 

Daan.., alhamdulillah lagi, kebaya akad saya tampak cukup sempurna (menurut saya) ketika saya kenakan di hari pernikahan kami. Kebaya tersebut pas di badan, payetnya rapih, cantik dan elegant, dan bustiernya nyaman sekali di badan. Bahkan ketika berulang kali saya harus duduk simpuh ketika sungkeman dan upacara adat mencuci kaki suami, kebaya tersebut sangat nyaman dikenakan. Kebayanya fit di badan dengan nyaman. Bagian lengan dan punggung, yang pada awalnya saya ributkan "agak kurang rapih" pun ternyata, baik-baik saja ketika saya kenakan. Alhamdulillah..



kebayanya sangat nyaman digunakan, bahkan ketika saya harus bolak balik simpuh untuk sungkeman dan upacara adat lain. Dan ternyataaaa, bagian lengan yang pada awalnya saya ributkan 'agak kurang rapih' pun, baik-baik saja ketika dikenakan!!


kebaya akad Butik Hana: simple, rapih, elegant (menurut saya).


kebaya midodareni dgn bahan sama persis (hehehe) dibuat oleh Fadlan. (Instagram Fadlan Indonesia)
Aaah, tentu saja yang namanya baju jika belum disetrika tentu tidak akan rapih jika dikenakan. Begitu pula kebaya, jika belum di dry clean, belum akan terlihat rapih kalau dikenakan. Jadi, saya ingin memberi credit yang layak untuk Butik Hana, karena telah membuatkan kebaya yang cantik, rapih dan elegant seperti bayangan kebaya akad dalam impian saya. Saya akan memberikan score ulang untuk Butik Hana atas pelayanan dan hasil kebaya buatannya 8,5 out of 10! Terima kasih banyak Butik Hana.. Terima kasih untuk kebaya akad cantiknya..




Friday, September 18, 2015

Strategi Dapur Istri (newbie housewife) Bekerja..

Judulnya, agak2 gimana gitu ya.. ehhehehe.. Tapi, saya pengen mengangkat pengalaman saya ini ke blog, barangkali ada juga penganten baru, yang masih shock dengan tugas barunya sebagai istri seperti saya.. Heheheh..

Sejak menikah 1,5 bulan yang lalu, banyak sekali penyesuaian2 yang harus saya lakukan. Terutama menyesuaikan mental perempuan single  menjadi perempuan menikah. Sewaktu masih single yang perlu dipikirin hanya kebutuhan pribadi, setelah menikah ada tugas-tugas istri menanti. 

Saya sendiri, sebelum menikah tinggal di kos yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari kantor. Jadi, saya bisa leyeh2 lebih lama di kosan sebelum berangkat ke kantor. Karena jam kantor kami dimulai pukul 7 pg, dgn toleransi keterlambatan setengah jam, sy baru bersiap mandi pukul 6.30 pg dan cuss sampai kantor sblm setengah 8. Pulang kantor pun bisa lama2 lembur di kantor.. bahkan seringkali saya pulang pukul 8 malam karena menemani mahasiswa bimbingan saya bekerja over time di lab. 
Setelah menikah, kami tinggal di daerah serpong yang berjarak sekitar 30 km dari kantor. Moda transportasi paling masuk akal yang tersedia tentu saja adalah commuter line. Masuk akal dalam hal waktu, tapi tidak masuk akal dalam kenyamanan. Duuh, badan saya berasa ngilu2 sewaktu awal2 jadi pengguna commuter line. Sementara kalo harus ngantor dengan mobil pribadi harus bersabar luama kejebak macet di jalan. Pernah suatu kali saya berangkat bareng suami, kami harus menghabiskan 2 jam lebih di jalan. Nooo!! Akhirnya, commuter line jd langganan saya tiap hari. setiap hari kami harus berangkat dari rumah paling lambat pukul 6 pg. 

Kalo hanya perlu mandi saja sih, berangkat jam 6 pg aman2 saja, ya.. Tapi, saya yang masih menganut nilai-nilai tradisional, pengennya bisa nyiapin makan pg dan makan malam untuk suami di rumah. Walaupun tidak sempat sarapan bareng di rumah, tp paling nggak saya bisa siapkan bekal untuk sarapan suami di kantor. Naaah, ini yang bikin lama.. masak kan nggak bisa sebentar, ya.. Belum lagi , pulang kantor harus menyiapkan makan malam juga.. duh, udah capek berdiri unyel2an di commuter line, sampai rumah masih harus masak.. Tapi, saya bertekad, saya harus BISA. Semua bisa diatasi dengan strategi.. daaan, strategi dapur saya, adalah sebagai berikut:

1. Kupas bawang merah, bawang putih dalam jumlah banyak, kemudian simpan dalam tupperware. Disimpan tanpa dicuci ya.. Bawang merah-putih kan bumbu dasar setiap masakan, jadi kalo sudah ada yang kupasan siap cincang atau blender, lebih menghemat waktu masak pastinya.

2. Masak lauk dalam jumlah cukup untuk semingguan waktu week end, kemudian simpan di refrigerator atau freezer. Misalnya, rendang, ungkepan ayam, sambal goreng daging, ikan berbumbu dll. Simpan dalam tupperware, dan lauk untuk seminggu aman. Ini hemat waktu banget, karena hanya perlu mnghangatkan atau menggoreng lauk td saat akan dimakan di week days. Kalau di rumah ada microwave, lebih simple lg, tinggal dihangatkan sebentar, dan TING, siap disantap. hehehe

sambal goreng daging printhil-kentang untuk lauk beberapa hari.. simpan di refri, hangatkan saat akan disantap. hehehe..


3. Potong-potong sayuran yang akan dimasak untuk week days pas week end. Misalnya kangkung, sudah saya potong-potong di week end, kemudian simpan di plastik dengan udara sesedikit mungkin. Sayur dan bayam potong bisa disimpan 2-3 hari di refri. Pas mau numis2, kita cuma butuh waktu less than 10 minutes untuk preparasi bumbu dan masaknya. Kan, bumbu juga tinggal diiris2, tanpa harus kupas-kupas lagi.. ehhehe..

4.Siapkan bumbu inti putih (untuk masakan yang mengandung kemiri), dan bumbu inti merah (yang mengandung cabe) di kulkas. Kalo mau rajin dan biar mantep  rasanya, bisa disiapkan sendiri dengan blender pas week end. Kalo saya, sementara ini masih membeli bumbu jadi, Kokita untuk ini. hehehe.. Jadi, misal pengen masak sayur lodeh, tinggal pake bumbu inti putih, dan tambahi irisan bawang merah, bawang putih segar biar mantap. Untuk bumbu2 tambahannya, seperti ketumbar, pakai saja yang bubuk.

5. Saya menyimpan berbagai macam bumbu dapur kering siap pakai.. seperti merica, ketumbar, cabe, daun oregano, dll. Kalo anda rajin, bisa siapkan merica dan ketumbar bubuk sendiri dengan blender, pasti rasanya lebih mantep. Lagi2, kalo saya sih masih beli di supermarket.. ehheheh..

6. Strategi saya yang lain adalah, menyiapkan masakan yang sekali masak sudah ada proteinnya (lauk) dan sayurannya. Misal, tumis jagung muda-telor puyuh-cumi-cabe ijo, atau bisa siapkan tumis sapi lada hitam dengan paprika, atau misalnya capcay yg bisa diisi berbagai macam jenis protein dan sayuran sesuai selera kita. 

sayuran dan protein dalam satu masakan
Dengan satu masakan , kebutuhan nutrisi kita terpenuhi. Satu bagian untuk makan malam, satu bagian simpan di refri untuk sarapan. ;)

 7. Oh ya, masak dalam jumlah agak banyak, cukup untuk dua kali makan ya..
Jadi, misalnya kita masak malam hari sepulang kantor, bagi dua hasil masakannya, satu bagian untuk makan malam,satu bagian lagi simpan di kulkas untuk sarapan. Hihihi.. hemat waktu dan energi kan.. Energi memasak dan mencuci peralatan dapur.. kaaan? ehheeh

 8. Simpan timun dan labu siam lalap, ya di kulkas. Kalau kepepet tidak sempat menyiapkan sayur segar, maka timun dan labu siam tadi jd pengganti sayur yang enak, kok!

Bekal sarapan suami saya saat tidak sempat menyiapkan sayur. Ayam-tahu goreng (tinggal goreng ayam ungkep di kulkas) dan timun, plus sambal botol.. hehehe..
Nah, itu beberapa tips aka strategi dapur saya.. Alhamdulillah, saya nggak capek banget, suami juga happy karena dimasakin istri.. ceritanya jadi semacam Ikhtiar/langkah kecil untuk membangun keluarga sakinah, mawadah, warahmah gitu.. halaah.. Aamiin.. :)




Review Daycare TBB Sylva KLHK

Sejak usia 3 bulan dan Bunda harus mulai aktif ngantor, putri kecil kami diasuh oleh yangti-yangkungnya di rumah, dengan sedikit bantuan dar...